Bahar RS
Torehan kata yang tidak terucap
Monday, December 21, 2015
524.288
Tuesday, March 10, 2015
Menghadapi Ujian di Tahun 2015
Ya Alloh, semoga dengan selalu mengingat-Mu, memohon ampun kepada-Mu, bisa menggugurkan dosa-dosa kami dan kehilafan kami. Di bulan Maret ini, kami dihadapkan dengan ujian yang bertubi-tubi. Ujian pertama, kami membantu mengurus Muhamad Tiar Safaraz yang tidak lain adalah keponakan dari istri saya sendiri. Tiar ini menderita kelainan jantung bawaan sejak lahir. Terdiagnosa PA, VSD dan MAPCA. Tidak ada jalan lain yaitu Operasi. Sebelum operasi dilakukan, ada tahapan kateterisasi jantung yang harus dijalankan. Sayangnya, proses kateterisasi ini dihentikan ditengah jalan oleh tim dokter karena keponakan ini oksigennya semakin turun ke 30%. Akhirnya kateter dihentikan dan si kecil dimasukkan ke ruang ICU untuk di monitor lebih lanjut. Karena kondisinya yang semakin menurun, akhirnya tahapan operasi harus segera dilaksanakan. Di tahap inilah ujian kami muncul. BPJS mempersulit kami karena ada syarat yang tidak terpenuhi yaitu tidak adanya riwayat kontrol di Poli Umum Jantung Harapan Kita. Singkat cerita, biaya kateterisasi sampai ICU ini dibebankan menjadi pribadi, bukan jalur BPJS. Rumah sakit memberikan jalan dengan cara mengeluarkan si kecil dari ICU dan memasukkannya ke ruang UGD Harapan Kita. Proses ini pun tidak berjalan dengan lancar, karena dr. BPJS meminta syarat tambahan yaitu surat keluar ICU dan surat pernyataan yang menerangkan bahwa keinginan keluar dari ICU bukan atas rekomendasi dr. BPJS melainkan atas keinginan sendiri. Berbagai cara sudah kami jalani, yang menghadap ke BPJS sudah berganti-ganti orang. Akhirnya, perjuangan di hari ketiga mengurus BPJS gol. Syarat itu terpenuhi semuanya dan sekarang sudah menjadi pasien BPJS sepenuhnya. Sekarang, masalahnya hanya menyisakan pembayaran yang sudah dilakukan dengan menggesek kartu kredit CIMB Niaga, bagaimana cara membayarnya.
Pertanyaan bagaimana cara membayarnya ini, sebetulnya tidak perlu terjadi kalau saya dan istri tidak mendapatkan ujian ini. Ya, ujian ini adalah ujian kedua di bulan yang sama, diminggu yang sama saat kami sedang fokus membantu si kecil di operasi jantung. Tiba-tiba saya di kabari oleh istri sendiri, bahwa uang 60 juta yang di investasikan ke teman baiknya hilang, karena perusahaannya collapse atau bangkrut. Kaget, shock, terperanjat, was-was, stress, marah, kesal, itu yang saya alami saat diberi kabar seperti itu oleh istri. Tapi saya berusaha untuk menghibur dan menenangkan diri sendiri, bahwa saya sudah terbiasa menjalani ujian berat seperti ini. Kita bisa lewati ini semua dan pada akhirnya kita akan lulus menghadapi ujian seperti ini.
Hal ini juga yang saya beritahukan ke istri saya, bahwa apapun yang terjadi, yang sudah ya sudah. Tinggal berfikir bagaimana kita akan mengganti semua uang yang hilang itu. Karena uang itu bukan sepenuhnya milik kami, ada uang temannya istri di dalamnya. Saya dan istri harus tanggung jawab, dan harus mengembalikan uang itu utuh, tanpa berkurang sedikitpun. Satu persatu, kami mulai menjual asset yang kami punya. Dimulai dengan motor Honda Beat istri yang dijual dadakan dan laku seharga 7.4 juta. Kemudian kami kuras semua manfaat tunai asuransi Prudential yang kami punya, nilainya kurang lebih 27 juta dari dua account, yaitu saya dan istri saya. Dan yang terakhir adalah, kami akan menjual Emas yang merupakan mas kawin pernikahan kami 6 tahun yang lalu. Saat kami memandang perhiasan itu, sejenak saya tertunduk lesu dan sedih, karena harta kami yang punya nilai "sakral" harus kami relakan untuk dijual, demi melunasi hutang yang kami punya.
Alloh Ya Robb, kami sangat yakin dan percaya, bahwa semua ini terjadi pasti atas kehendak-Mu, kami tidak berani banyak meminta dan menuntut kepada-Mu, yang kami perlukan, semoga kami bisa menjalani ujian ini dengan penuh keikhlasan, dan berikan kemampuan kepada kami untuk bangkit dan berusaha menjalani ujian ini sehingga kami menjadi pribadi yang tidak serakah, pandai bersyukur, pandai berbagi, sekecil dan sebesar apapun yang kami dapat.
Jakarta, 10 Maret 2015
Wednesday, January 28, 2015
Belajar Telat 7 Hari
Tuesday, December 23, 2014
6 Years Already
Friday, September 12, 2014
Hadirnya Anggota Keluarga Baru
Rabu, 10 September 2014, malam sehabis isya, saya, istri, abang ipar pergi menjenguk Iis (kakak istri) di bidan langganan keluarga. Iis secara hitungan, memang waktunya melahirkan. Dia sudah di induksi dari jam 9 pagi. Sampai saya dan istri datang, masih di bukaan 9. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 1.30 tapi Iis masih dibukaan 9 dan ada sedikit masalah dengan posisi bayinya. Karna jam yang sudah semakin pagi, saya dan istri pamit pulang dilanjutkan dengan anggota keluarga lain yang menunggu. Sampailah pada keputusan Iis harus dibantu di-vacuum karna posisi bayi yang masih belum ideal untuk keluar dari rahim. Jam 4 kami dikabari lewat bbm, kalau anaknya sudah lahir di RS Duren Tiga. Ternyata Iis di rujuk ke sana karna harus dibantu dengan vacuum sementara di bidan peralatannya tidak memadai. Kami berucap syukur karna sempat terlintas dipikiran jangan-jangan harus di caesar.
Lengkap sudah Iis dan Suami yang sudah menunggu kurang lebih 2 tahunan akhirnya dikaruniai anak juga. Ya, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang ganteng dan lucu. Di tengah-tengah suasana gembira ini, jujur, saya sempat membatin dalam hati "Ya Alloh, kakak-kakaknya sudah diberikan kepercayaan oleh Alloh untuk dianugerahi keturunan, tidak ada rasa khawatir lagi dalam diri dan keluarga mereka. Bagaimana dengan nasib kami?". Diakui atau tidak, disadari atau tidak, saya yakin istri-pun pasti membatin hal yang sama. Ya Alloh, kami memang sudah berikhtiar kemana-pun, kalau-pun pada akhirnya Engkau memang menilai kami belum layak untuk di-anugerahi keturunan, buatlah hati dan pikiran kami selalu berbaik sangka kepada-Mu. Bahwa apapun yang Engkau kehendaki, itulah yang terbaik buat kami. Jadikan keadaan ini membuat kami selalu tetap bersyukur kepada-Mu dan tidak menjadikan kami kufur nikmat kepada-Mu.
Diantara anak-anaknya Aba, memang tinggal Istri lah yang sudah menikah paling lama tapi belum dikaruniai keturunan. Saya dan istri sungguh dihadapkan dalam kondisi yang secara mental ini tidak menguntungkan buat kami. Tapi apapun itu, kami belajar menyikapi hal ini dengan tetap bersabar dan terus berikhtiar. Beruntung kami terus bisa memahami perasaan masing-masing. Karna isu ini bisa menjadi sesuatu yang "sangat sensitif" untuk dibahas.
Selamat Iis, Dedi, apa yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Semoga kehadiran anggota barunya bisa membuat hidup kalian lebih bermakna, lebih berwarna, lebih manfaat dan jadi berkah untuk semua orang. Amiiin
Wednesday, September 10, 2014
Menuju 6 Tahun Pernikahan dan Cita-cita Yang Belum Terlaksana
Thursday, May 8, 2014
Terima Kasih Pa Adi.......
Blog Archive
About Me
- Bahartea
- Satu di antara makhluk-Nya yang ingin menjalani hidup dengan "kemandirian"