Monday, December 21, 2015

524.288



Sudah lama sekali saya tidak menulis apa-apa di blog saya. Mungkin ada baiknya saya share tentang ikhtiar kami selama 7 tahun berumah tanggal yang sampai sekarang belum diberikan keturunan oleh Sang Maha Berkehendak.
Bulan ini, menjadi bulan tersibuk untuk saya dan istri. Bulan ini juga yang menyedot banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk mengejar ikhtiar itu (baca: mendapatkan keturunan). Bulan November 2015, kami sepakat untuk inseminasi.  Dan, hasilnya adalah Gagal. Istri kembali menstruasi seperti biasanya. Hampir tidak ada perbedaan yang berarti dengan siklus mens nya, masih normal di siklus 28 hari. Sesuai arahan Prof. Wachyu, jika seandainya setelah inseminasi istri masih mens, maka untuk sementara waktu tidak menghadap dan konsultasi dengan beliau, tetapi kami harus bertemu Androlog. Akhirnya kami menghadap dr. Indra sesuai arahan Prof. Wachyu. Setelah berkonsultasi dengan beliau, kami harus menjalani pemeriksaan lanjutan, istri harus diambil sampel darah, dan saya diambil sampel sperma. Darah istri nantinya akan diformulasikan sedemikan rupa dengan sperma saya. Proses ini dinamakan ASA (Anti Sperm Antibody). Sambil menunggu hasil lab yang baru keluar 3-4 hari kemudian, kami tenang dan santai saja menjalani aktivitas seperti biasa.
Setelah hasil lab keluar di hari Jum'at, 18 Desember 2015, kami kembali menghadap dr. Indra dan beliau berusaha menjelaskan secara singkat arti dari hasil lab kami berdua. Di laboratorium, diamati pengenceran serum darah istri atau plasma semen yang dapat menyebabkan aglutinasi spermatozoa. Normalnya, penggumpalan terjadi hanya pada ukuran pengenceran 1:64. Lebih dari angka 64 itu, ASA mulai dianggap tinggi. Semakin menjauh dari angka tersebut, berarti ASA semakin tinggi. Hasilnya, kami sungguh kaget. Ternyata, antibodi istri saya sangat tinggi, yaitu di 524.288. Dan itu adalah range tertinggi diantara nilai tertinggi. Artinya, ada penolakan dari tubuh istri terhadap sperma saya. Dalam hal ini sperma saya di anggap benda asing ditubuh istri. Karena dianggap benda asing, akhirnya sperma itu membentuk gumpalan-gumpalan yang tidak berguna. Kami hanya manggut-manggut setelah diberikan penjelasan seperti itu oleh dr. Indra.
Kami disarankan dokter untuk terapi PLI (Paternal Leucocyte Immunization). Terapi ini dilakukan secara continue setiap 3-4 minggu sekali. Sederhananya, PLI adalah proses memasukkan sel darah putih saya ke tubuh istri. Kenapa harus sel darah putih? Karena sel darah putih punya struktur DNA yang sama dengan sperma saya. Harapannya dengan dimasukkan nya sel darah putih saya ke tubuh istri, sel darah putih ini dikenal dan dianggap bukan benda asing. Disamping itu, ada pre-PLI yang harus dijalani, salah satunya adalah saya juga harus di ambil darah untuk memastikan tidak ada penyakit hepatitis A, B, C dan juga penyakit lainnya. Singkat cerita, darah saya pun harus dalam kondisi sehat, karena darah inilah yang akan di suntikkan (setelah di filter di Air Flow Incubator dan tersisa hanya sel darah putih) ke jaringan di bawah kulit istri saya.
Setelah kami tau harus di terapi PLI, kami pun langsung sama-sama googling, apa tahapannya, berapa biayanya, lama treatment, dan sebagainya. Hal ini penting kami ketahui karena kami berkejaran dengan waktu. Tidak terasa, di bulan ini pula, kami ternyata sudah 7 tahun menikah. Yup, kami menikah di 14 Desember 2008 yang lalu. Setelah berdiskusi agak panjang, kami memutuskan untuk menunda treatment PLI ini, karena keterbatasan keuangan (setelah sebelumnya keuangan kami banyak dialokasikan untuk biaya inseminasi). 
Kami memutuskan untuk mencoba pengobatan Alternatif yaitu Pijat Tuina. Saya mendapatkan referensi ini dari senior di kampus sewaktu di Bandung dulu. Kebetulan teman ini setelah 9 tahun penantian, akhirnya sekarang sedang hamil 5 bulan.  Yang menjadi unik, terapi yang dijalani selama ini untuk istrinya, lebih ke arah mengobati organ lain di tubuhnya, bukan menguatkan atau melancarkan organ reproduksinya. Atas dasar itulah, saya tertarik untuk mencoba. Tempat prakteknya di Bogor, persis seberang Istana Negara, disamping BCA Finance. Sesuai arahan dari teman kakak kelas, saya sudah sampai di tempat pengobatan jam 5.45 pagi. Dan sungguh beruntung, antrian saya nomor 10, yang artinya antrian terakhir.  Setelah berjam-jam menunggu antrian, kami akhirnya mendapat giiliran untuk masuk. Pertanyaan pertama "apa yang bisa saya bantu", kata si Terapisnya, yang sekarang saya tau namanya adalah Pak H. Jusuf. SA. Saya jawab "tidak dibawa". Saat itu juga jawaban saya di potong oleh beliau dan di suruh pulang, silahkan kembali lagi pada saat membawa hasil labnya. Jleb, gimana gitu rasanya, antri berjam-jam, nomor terakhir pula, setelah masuk, ternyata tidak sampai 2 menit konsultasi, hasilnya, disuruh pulang J.
Tidak menyerah, minggu berikutnya kami kembali lagi ke tempat prakteknya. Kali ini, kami berangkat jam 3 pagi dari rumah Kalibata karena mengejar subuh di tempat. Waktu subuh tiba, kita mampir di Masjid Raya Bogor. Selesai sholat, kami lanjutkan perjalanan ke tempat pengobatan itu. Kami mendapat antrian nomor 3. Yup, itulah perjuangan untuk berobat alternatif ke Pak H. Jusuf di Bogor. Singkat cerita, begitu antrian kami tiba, langsung masuk dengan membawa hasil lab yang kami punya. Menurut pendapat beliau, istri saya walaupun secara hasil medis terdapat antibodi yang sangat tinggi, baginya itu tidak masalah karena beliau berpendapat bahwa wanita itu hanya persemaian, yang paling menentukan adalah bibit yang ditanam. Saya hanya mengiyakan saja saat itu, akhirnya saya lah yang di Pijat Tuina terlebih dahulu oleh beliau. Nanti kami kembali lagi setelah istri menstruasi di bulan Januari 2016. Sebelum pulang, khusus untuk saya diberikan resep herbal yang harus di minum pagi dan sore sesuai dosis dan cara pakai yang sudah dijelaskan oleh asistennya.
Well, usaha dan ikhtiar kami ternyata masih sangat panjang. Bismillah, semoga ikhtiar ini menjadi ladang amal dan ibadah untuk kami berdua.

Jakarta, 21 Desember 2015 @My Office's Desk.


--

Tuesday, March 10, 2015

Menghadapi Ujian di Tahun 2015

Ya Alloh, semoga dengan selalu mengingat-Mu, memohon ampun kepada-Mu, bisa menggugurkan dosa-dosa kami dan kehilafan kami. Di bulan Maret ini, kami dihadapkan dengan ujian yang bertubi-tubi. Ujian pertama, kami membantu mengurus Muhamad Tiar Safaraz yang tidak lain adalah keponakan dari istri saya sendiri. Tiar ini menderita kelainan jantung bawaan sejak lahir. Terdiagnosa PA, VSD dan MAPCA. Tidak ada jalan lain yaitu Operasi. Sebelum operasi dilakukan, ada tahapan kateterisasi jantung yang harus dijalankan. Sayangnya, proses kateterisasi ini dihentikan ditengah jalan oleh tim dokter karena keponakan ini oksigennya semakin turun ke 30%. Akhirnya kateter dihentikan dan si kecil dimasukkan ke ruang ICU untuk di monitor lebih lanjut. Karena kondisinya yang semakin menurun, akhirnya tahapan operasi harus segera dilaksanakan. Di tahap inilah ujian kami muncul. BPJS mempersulit kami karena ada syarat yang tidak terpenuhi yaitu tidak adanya riwayat kontrol di Poli Umum Jantung Harapan Kita. Singkat cerita, biaya kateterisasi sampai ICU ini dibebankan menjadi pribadi, bukan jalur BPJS. Rumah sakit memberikan jalan dengan cara mengeluarkan si kecil dari ICU dan memasukkannya ke ruang UGD Harapan Kita. Proses ini pun tidak berjalan dengan lancar, karena dr. BPJS meminta syarat tambahan yaitu surat keluar ICU dan surat pernyataan yang menerangkan bahwa keinginan keluar dari ICU bukan atas rekomendasi dr. BPJS melainkan atas keinginan sendiri. Berbagai cara sudah kami jalani, yang menghadap ke BPJS sudah berganti-ganti orang. Akhirnya, perjuangan di hari ketiga mengurus BPJS gol. Syarat itu terpenuhi semuanya dan sekarang sudah menjadi pasien BPJS sepenuhnya. Sekarang, masalahnya hanya menyisakan pembayaran yang sudah dilakukan dengan menggesek kartu kredit CIMB Niaga, bagaimana cara membayarnya.

Pertanyaan bagaimana cara membayarnya ini, sebetulnya tidak perlu terjadi kalau saya dan istri tidak mendapatkan ujian ini. Ya, ujian ini adalah ujian kedua di bulan yang sama, diminggu yang sama saat kami sedang fokus membantu si kecil di operasi jantung. Tiba-tiba saya di kabari oleh istri sendiri, bahwa uang 60 juta yang di investasikan ke teman baiknya hilang, karena perusahaannya collapse atau bangkrut. Kaget, shock, terperanjat, was-was, stress, marah, kesal, itu yang saya alami saat diberi kabar seperti itu oleh istri. Tapi saya berusaha untuk menghibur dan menenangkan diri sendiri, bahwa saya sudah terbiasa menjalani ujian berat seperti ini. Kita bisa lewati ini semua dan pada akhirnya kita akan lulus menghadapi ujian seperti ini.

Hal ini juga yang saya beritahukan ke istri saya, bahwa apapun yang terjadi, yang sudah ya sudah. Tinggal berfikir bagaimana kita akan mengganti semua uang yang hilang itu. Karena uang itu bukan sepenuhnya milik kami, ada uang temannya istri di dalamnya. Saya dan istri harus tanggung jawab, dan harus mengembalikan uang itu utuh, tanpa berkurang sedikitpun. Satu persatu, kami mulai menjual asset yang kami punya. Dimulai dengan motor Honda Beat istri yang dijual dadakan dan laku seharga 7.4 juta. Kemudian kami kuras semua manfaat tunai asuransi Prudential yang kami punya, nilainya kurang lebih 27 juta dari dua account, yaitu saya dan istri saya. Dan yang terakhir adalah, kami akan menjual Emas yang merupakan mas kawin pernikahan kami 6 tahun yang lalu. Saat kami memandang perhiasan itu, sejenak saya tertunduk lesu dan sedih, karena harta kami yang punya nilai "sakral" harus kami relakan untuk dijual, demi melunasi hutang yang kami punya.

Alloh Ya Robb, kami sangat yakin dan percaya, bahwa semua ini terjadi pasti atas kehendak-Mu, kami tidak berani banyak meminta dan menuntut kepada-Mu, yang kami perlukan, semoga kami bisa menjalani ujian ini dengan penuh keikhlasan, dan berikan kemampuan kepada kami untuk bangkit dan berusaha menjalani ujian ini sehingga kami menjadi pribadi yang tidak serakah, pandai bersyukur, pandai berbagi, sekecil dan sebesar apapun yang kami dapat.

Jakarta, 10 Maret 2015

Wednesday, January 28, 2015

Belajar Telat 7 Hari

Bulan ini, bisa jadi bulan yang cukup mendebarkan buat saya dan istri saya. Pasalnya, istri secara hitungan mens seharusnya tanggal 21 Januari 2015. Tetapi sampai tanggal 27 Januari 2015 masih tidak kunjung datang mens nya. Sayangnya, setelah tanggal 21 Januari, memang saya dan istri ada banyak aktivitas, yang seharusnya aktivitas itu dikurangi atau malah ditiadakan supaya kondisi istri saya bisa prima. Akhirnya di tanggal 28, istri saya mens juga. 
Buat kami berdua, bisa telat seminggu saja sudah kemajuan luar biasa. Karena memang istri mens nya selalu teratur dan tidak pernah telat. Biarlah hanya kami yang bisa merasakan kebahagiaan sesaat ini. Semoga saja Alloh memberikan kami kesempatan, memberikan kesempatan untuk istri saya, untuk belajar telat mens yang berujung istri saya bisa hamil.
Yah, enam tahun pernikahan kami memang belum dikaruniai anak seperti teman-teman lain, atau seperti kakak-kakaknya istri. Saya tetap berbaik sangka terhadap Alloh, pasti ada hikmah di balik perjalanan dan ikhtiar kami selama enam tahun ini. 
Untuk istri saya, tetaplah semangat. Alloh bersama kita. Jangan pernah sedikitpun kita berburuk sangka. Apapun yang diberikan Alloh untuk kita, itulah yang terbaik menurut-Nya. Mudah-mudahan selalu istiqomah, tetap berusaha, tetap berikhtiar, dan jangan menyerah.

TMI, 3:29 PM

Tuesday, December 23, 2014

6 Years Already

Robb, 
6 tahun sudah saya dan istri menikah, dan Alhamdulillah sampai detik ini Allah belum mengizinkan kami dikaruniai keturunan. Memang ada sesuatu yang kurang dalam rumah tangga kami, disaat kakak kami, adik kami, teman kami, tetangga kami sudah ada suara tangisan si kecil di dalam rumah yang memberikan warna dan nuansa lain di dalam rumah itu. 
Insya Alloh, saya dan istri 
Kami, selalu mencoba husnudzon dengan apapun ketentuan Alloh, mungkin Alloh ingin memberikan kesempatan kepada kami menjadi makhluk yang lebih pandai bersyukur dan menjadi makhluk yang lebih tough dalam menjalani kehidupan ini.
Mencoba mencari kesibukan untuk kami berdua, mungkin itu yang sedang kami jalani sekarang ini. Merayakan 6 tahun pernikahan kami di tanggal 14 Desember 2014 lalu, kami sengaja meluangkan waktu berdua untuk pergi ke Giri Tirta Resort, salah satu tempat rekreasi yang belum banyak diketahui orang banyak. Resort ini lokasinya tidak jauh dari Jakarta, persisnya ada di daerah Wanayasa, Purwakarta. Keluar tol Jatiluhur, ambil arah purwakarta kota, terus ke arah Wanayasa. 
Memang, di 6 tahun pernikahan ini, saya dan istri ingin lebih banyak merenung, jauh dari hiruk pikuk keramaian. Siapa yang ingin merasakan ketenangan dalam berlibur, tidak ada salahnya mencoba objek wisata Giri Tirta Resort di Wanayasa ini.
Di tahun ini pula, usaha kami mengalami masalah gagal bayar. Memang tidak sedikit uang yang macet, sampai saya dan istri hampir tidak mempunyai tabungan sama sekali. Semoga usaha ini mendapat titik terang, ada jalan keluar dan ada mukjizat dari Alloh. Bagaimana tidak, usaha ini sudah macet dari 1 tahun yang lalu dan sampai sekarang belum juga ada pencairan. Kami sudah pontang-panting membayar utang yang sudah menggunung ke bank. Ya, untuk menjalankan usaha rental besi hollow ini saya memang memakai pinjaman dari bank. Saya harus siap mengambil resiko dalam berusaha. Semoga Allah selalu membimbing kami untuk tetap lurus di jalan-Nya.

Friday, September 12, 2014

Hadirnya Anggota Keluarga Baru

Rabu, 10 September 2014, malam sehabis isya, saya, istri, abang ipar pergi menjenguk Iis (kakak istri) di bidan langganan keluarga. Iis secara hitungan, memang waktunya melahirkan. Dia sudah di induksi dari jam 9 pagi. Sampai saya dan istri datang, masih di bukaan 9. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 1.30 tapi Iis masih dibukaan 9 dan ada sedikit masalah dengan posisi bayinya. Karna jam yang sudah semakin pagi, saya dan istri pamit pulang dilanjutkan dengan anggota keluarga lain yang menunggu. Sampailah pada keputusan Iis harus dibantu di-vacuum karna posisi bayi yang masih  belum ideal untuk keluar dari rahim. Jam 4 kami dikabari lewat bbm, kalau anaknya sudah lahir di RS Duren Tiga. Ternyata Iis di rujuk ke sana karna harus dibantu dengan vacuum sementara di bidan peralatannya tidak memadai. Kami berucap syukur karna sempat terlintas dipikiran jangan-jangan harus di caesar.

Lengkap sudah Iis dan Suami yang sudah menunggu kurang lebih 2 tahunan akhirnya dikaruniai anak juga. Ya, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang ganteng dan lucu. Di tengah-tengah suasana gembira ini, jujur, saya sempat membatin dalam hati "Ya Alloh, kakak-kakaknya sudah diberikan kepercayaan oleh Alloh untuk dianugerahi keturunan, tidak ada rasa khawatir lagi dalam diri dan keluarga mereka. Bagaimana dengan nasib kami?". Diakui atau tidak, disadari atau tidak, saya yakin istri-pun pasti membatin hal yang sama. Ya Alloh, kami memang sudah berikhtiar kemana-pun, kalau-pun pada akhirnya Engkau memang menilai kami belum layak untuk di-anugerahi keturunan, buatlah hati dan pikiran kami selalu berbaik sangka kepada-Mu. Bahwa apapun yang Engkau kehendaki, itulah yang terbaik buat kami. Jadikan keadaan ini membuat kami selalu tetap bersyukur kepada-Mu dan tidak menjadikan kami kufur nikmat kepada-Mu.

Diantara anak-anaknya Aba, memang tinggal Istri lah yang sudah menikah paling lama tapi belum dikaruniai keturunan. Saya dan istri sungguh dihadapkan dalam kondisi yang secara mental ini tidak menguntungkan buat kami. Tapi apapun itu, kami belajar menyikapi hal ini dengan tetap bersabar dan terus berikhtiar. Beruntung kami terus bisa memahami perasaan masing-masing. Karna isu ini bisa menjadi sesuatu yang "sangat sensitif" untuk dibahas.

Selamat Iis, Dedi, apa yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Semoga kehadiran anggota barunya bisa membuat hidup kalian lebih bermakna, lebih berwarna, lebih manfaat dan jadi berkah untuk semua orang. Amiiin

Wednesday, September 10, 2014

Menuju 6 Tahun Pernikahan dan Cita-cita Yang Belum Terlaksana

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Tidak terasa, sudah 5 tahun 9 bulan kami sudah menjalani pernikahan. Di usia ini pula kami menikmati apapun yang Alloh skenariokan. Kami terus belajar bersyukur, berbaik sangka dengan Sang Maha Adil. Memang kerikil pernikahan di hampir 6 tahun ini boleh di bilang tidak sedikit. Kami berdua sudah terlalu sering mendengarkan pertanyaan atau pun pernyataan dari teman, tetangga, saudara, orang tua tentang buah hati yang sampai detik ini belum di anugrahkan kepada kami. Kami pun sadar sepenuhnya, berdiam diri dan pasrah bukan juga sikap yang tepat. Ikhtiar ke Dokter SpOG tetap kami lakukan, bahkan sampai tahap Operasi Laparoskopi istri pun dijalani. Tidak lain dan tidak bukan, demi menyempurnakan ikhtiar kami untuk mendapatkan keturunan. Laparoskopi sudah dijalani di akhir tahun 2013 lalu. Sementara waktu, kami memutuskan untuk stop konsultasi ke Dokter SpOG. Bukan apa-apa, lama-kelamaan saya sangat kasihan terhadap istri yang setiap kali konsultasi, kami selalu mendapatkan resep obat yang 'lumayan' secara jumlah atau pun harganya. Biarlah untuk saat ini, saya dan istri stop ke Dokter, dan menjalani hidup seperti biasa. Ada keinginan yang begitu kuat dalam diri ini untuk mengunjungi rumah Alloh di Mekkah sana. Serangkaian ikhtiar dan doa sudah kami jalani selama ini agar kami mendapatkan keturunan. Satu hal yang belum kami coba, berdoa di depan Ka'bah, tempat yang menurut banyak orang Mustajab untuk Doa yang dipanjatkan. Tapi kami masih banyak keterbatasan, masih harus melunasi hutang-hutang ke bank yang kami pakai untuk usaha tahun lalu. Saya pribadi ingin berhaji daripada umroh. Tapi mengingat antrian yang sangat panjang untuk berhaji, niat itu sekarang mengendur dan lebih kuat untuk Umroh terlebih dahulu. Semoga Alloh melancarkan niat kami untuk umroh ke Tanah Suci sesegera mungkin. Terkadang malu dengan rekan-rekan di kantor, mereka sudah berangkat duluan sementara saya masih asyik dengan pekerjaan. Malu juga sama orang tua atau pun mertua yang secara tidak langsung sudah menyentil kami beberapa kali. Dan yang lebih malu dengan diri sendiri tentunya. Beli mobil sanggup, beli rumah sanggup, beli apartemen sanggup, tapi untuk ke Rumah Alloh ada 1001 alasan yang muncul. Belum terpanggil lah, belum cukup uangnya lah, belum bisa nabung lah, masih banyak sangkutan hutang lah, Semoga Alloh mengabulkan dan memudahkan kami untuk tujuan Mulia itu. Amiiin.

Thursday, May 8, 2014

Terima Kasih Pa Adi.......

Pak Adi Pramono, bergabung dengan TMI tanggal 7 Agustus 2002. Beliau memang saya minta kepada Department Head saat itu untuk mensupervisi saya dalam pekerjaan karena saya akui, saya masih sangat belia dengan lingkungan pekerjaan terlebih dengan kondisi di TMI saat itu. Programmer yang ada hanya 3 orang, Pak Iwan, A Yuyud, Rika. Sementara di bagian jaringan, hanya ada saya sendiri. Untuk itulah, saya meminta tambahan 1 orang sekaligus menjadi atasan saya. 
Setelah bergabung, Pa Adi memang terkenal unik. Tertutup dan sangat jarang berkomunikasi dengan orang lain. Beliau tidak pernah membuka obrolan dengan orang lain kalau tidak ditanya terlebih dahulu. Tidak ada yang perlu diragukan dari sisi Technical, beliau sangat mumpuni dan experience di bidangnya. Apapun yang dikerjakan, tidak ada kata tidak selesai dan tidak solve. Saya pun berusaha mengikuti ritme beliau, tetapi saya menyadari sepenuhnya bahwa jam terbang memang membedakan kualitas orang. Dalam beberapa hal, saya selalu menanyakan jika ada hal yang saya tidak tau atau sekedar meminta konfirmasi nya apakah langkah yang sudah saya ambil sudah benar atau belum.
Sifat tertutup itulah yang membuat saya terkadang kebingungan jika ingin bertanya sesuatu yang teknis dan beliau selalu menjawab singkat seolah-olah kita dianggap sudah mengerti. Berangkat dari kondisi inilah, saya berusaha sebisa mungkin dalam mengerjakan apapun tidak meminta bantuan beliau, karena saya tau beliau fokus mengerjakan area server, saya tidak ingin mengganggu gugat dan menyentuhnya karena saya tau apa yang akan saya dapatkan seandainya saya masuk ke areanya beliau. Dan memang terbukti, apapun setting yang beliau kerjakan, saya sedikitpun tidak pernah di share. Kondisi ini semakin menambah kebingungan saya karena saya berada dalam satu section dan di bawah koordinasi beliau. Untuk itu, setiap tahun saat musim pengisian Target Achievement (TA), saya pusing setengah mati. Ingin meng-create sesuatu di server area, tapi semuanya dalam genggaman beliau. Akhirnya, saya mencoba meng-create sesuatu yang lain yang tidak related dengan server area. Mulailah perlahan-lahan saya handle network di kantor cabang. Setiap ada kantor cabang baru yang disetup, saya biasakan terjun langsung dari mulai server installation, setup network segmen, ip address, pc untuk client dan lain sebagainya. Sedikit memang, tapi membuahkan hasil buat saya. Daripada fokus di area server yang saya sendiri secara tidak langsung tidak diberikan sharingnya, lebih baik saya meng-create sesuatu yang lain yang bisa berguna juga untuk TMI.
Tahun demi tahun berjalan, komunikasi dengan beliau tetap sama, pasif dan miskin sharing. Saya pun tidak ambil pusing, pada akhirnya selalu mencoba untuk meng-create sesuatu diluar server area. Sebutlah penghematan pulsa dengan VoIP, ISDN TV Conference, menggantikan server Blackberry Enterprise dengan BES Express yang free license, mengupgrade jaringan internet dan MPLS menjadi dua kali lipat, dan beberapa yang lain.
Walhasil, ujian buat saya bertambah saat saya dipromosikan menjadi level yang sama dengan beliau. Komunikasi semakin bertambah sulit, tidak jarang apa yang saya tanyakan selalu akan kembali dengan jawaban "ga tau aku", "cari tau aja sendiri". Jawaban-jawaban ini semakin menambah beban mental buat saya. Saya tidak pernah membayangkan kalau posisi saya bisa menjadi sama seperti beliau, sama sekali tidak pernah terpikirkan. Saya bekerja Lillaahi Ta'ala. Apa yang saya kerjakan, saya kerjakan sebisa mungkin dan selalu niat saya adalah ibadah. Masalah hasil, saya selalu kembalikan kepada yang membuat diri saya ini, Alloh SWT. 

Tanggal 7 Mei 2014, beliau resign, tidak ada yang tau kemana beliau pindah atau berwirausaha

Terima kasih Pa Adi, sudah menjadi guru buat saya, apapun yang saya dapatkan dari Pa Adi, benar-benar ilmu yang bermanfaat untuk saya. 

About Me

Satu di antara makhluk-Nya yang ingin menjalani hidup dengan "kemandirian"